Hari sedihku
berawal dari pertemuan yang indah, seorang pria berkemeja hitam membawa mawar
berlutut di hadapanku meminta diriku untuk menjadi kekasihnya, hal yang sangat
romantis yang dilakukan lelaki kepadaku. Ku ambil sekuntum mawar itu kucium
wanginya seolah-olah wangi itu adalah bagian diriku yang hilang. Aku wanita
yang menyikapi semua hal dengan tidak biasa, menjauhi pria yang menyukaiku
salah satunya mengambil contoh kehidupan ibuku yang pernah gagal dalam berumah
tangga membuatku takut untuk berurusan dengan lelaki. Aku di tinggalkan ayahku
saat aku duduk di kelas 2 sd, mereka bertengkar hebat sampai akupun takut untuk
mendengarnya, tak ada yang kuingat dari sosok ayah, aku hanya membencinya dan
berusaha tidak memikirkannya walaupun terkadang kurindu sesosok pria untuk
menjagaku, menasihatiku dan menolongku disaat kuterpuruk dari kehidupanku yang
tak pernah utuh lagi. Kumerasakan kejanggallan saat bertemu pria itu, pria yang
memintaku untuk menjadi kekasihnya. Awalnya kami bersekolah bersama di sma swasta
di lampung kami cukup dekat ku anggap dia sebagai kakakku sendiri yang dapapt
membantuku dan menjagaku disaat anak yang lain mengolok-olokku, membantuku
disaat kutidakmengerti suatu pelajaran, dia juga menyemangatiku di saat aku
dalam kesulitan, dia yang selalu ada untukku, dia juga yang telah merubah
pandangan hidupku tentang sesosok lelaki yang kukenal selama ini.
Mungkin
pertemananku dengannya akan berlangsung baik-baik saja, kami bermain bersama
tertawa bersama hingga waktupun kami hiraukan. Namun ada satu hal yang aku
khawatirkan tentangnya, apakah dia akan seperti ini selamanya? Selalu
menemaniku selalu ada disampingku. Sebuah pertanyaan yang aku hindari, yang
kutahu dia disini sekarang.
Satu
waktu dia bertanya kepadaku tentang seorang wanita yang baru ia lihat tadi
pagi, wanita dengan rambut panjang dan dihiasi oleh kunciran kecil di sebelah
kanan kepalanya, memiliki paras yang cantik berpenampilan seperti wanita
sempurna dimata lelaki. Aku tahu dia, wanita itu adalah anak dari pengusaha
batu bara kutahu dia dari teman-temanku. “ooh si jessica, dia baru kelas 2.
Kenapa? Lu suka yaa sama dia?..”tanyaku dengan sedikit cemburu. “nggak kok,
Cuma nanya aja soalnya selama sekolah disini gue baru lihat dia”.
Kekhawatiranku kepadanya pun semakin menjadi-jadi, tatkala sepulang sekolah dia
menemui jessica dan mengajak kenalan padanya, aku yang melihatnya berusaha
untuk tidak tahu apa-apa. Mataku pun terasa tak ingin berkedip melihat jessica
tersenyum kepada lelaki yang selalu menemaniku itu, rasa cemburu itupun menjadi
semakin terlihat disaat aku menanyakan hubungan dia dengan jessica setelah
beberapa hari berkenalan. Walaupun sebenarnya aku pun tahu apa yang dia lakukan
bersama jessica beberapa hari ini, dia pun sudah mulai menolak ajakanku untuk
pulang sekolah bersama, dia lebih memilih jessica untuk di antar pulang
ketimbang aku. Disaat itu aku tahu semua lelaki akan meninggalkanmu juga pada
akhirnya membuatku ingat kepada kejadian yang ibuku yang tinggalkan ayahku
pergi entah kemana. dia meninggalkan kami berdua begitu saja, pakaian ayahku
pun masih berada di lemarinya. Aku tak tahu kemana dia pergi mungkinkah dia
sudah memiliki keluarga baru?! Mungkinkah dia tak pernah ingat lagi kepada
kami?! Ibuku pun bertahan sendiri untuk menafkahiku, menyekolahkanku sampai
saat ini. dia wanita yang selalu aku banggakan dalam setiap detik tak pernah ku
lupakan ibuku yang telah merawat ku sendirian, tak pernah kulupakan untuk
memetik cabai di kebun milik pamanku sepulang sekolah untuk ibuku yang nantinya
akan digunakannya untuk membuat sambal gado-gado.
Hari
demi hari terus berganti aku dan dia pun bagaikan tak pernah ketemu disekolah
walaupun kami satu kelas namun pikiran dia hanya untuk jessica saat ini. kami
pun hanya bertegur sapa seperlunya saja, kami tak pernah bermain belajar dan
tertawa bersama lagi, aku pun merasa dia bukanlah orang yang kukenal lagi,
ketakutankku menjadi kenyataaan saat pria yang selalu menemaniku mendadak
melupakanku aku hanya bisa meilhatnya dari kursi belakang saat jessica datang
untuk menemuinya ketika bel pulang berbunyi. Aku masih ingat saat dia selalu
mengajakku bermain sepulang sekolah, mengantarkanku memetik cabai di kebun,
mentertawakanku disaat semua memarahiku karna kesalahanku, kehangatan dari
kata-kata yang keluar dari mulutnya seakan itu adalah hal yang bisa kugenggam
selamanya.
Kujalani
hidupku seperti biasa lagi, tanpa memperdulikan dia lagi. Selepas sekolah ku
langsung pulang ke rumah, terkadang tetesan air mata pun tak bisa kubendung
lagi mengingat betapa indahnya candaannya dulu, tersenyum sendiri ku
mengingatnya lagi namun kupikir untuk apa ku mengingatnya lagi dia sekarang
disana bersama wanita yang ia cintai. Mungkin jessica adalah sosok wanita yang
sempurna dimatanya, jika disandingkan denganku aku hanyalah butiran kapas
sedangkan dia adalah burung yang terbang mengepakkan sayapnya sendiri. Jessica,
itulah cerita terakhir yang kusampaikan padanya sampai akhirnya dia pergi
meninggalkanku dan memilih cintanya dari pada persahaban kita.
Satu
hari kujalani bersama ibuku membantu
berjualan gado-gado di rumah. Sampai pada siang hari saat sayuran untuk membuat
gado-gado pun tinggal sedikit yang mungkin hanya cukup untuk setengah porsi.
Kami pun menutup warung gado-gado ibu siang itu, namun datanglah lelaki itu,
lelaki yang seharusnya bermain bersama denganku hari itu, dia dengan sedikit
senyumannya mengucapkan kata yang begitu merdu di telingaku “hai, apa kabar?”
tanyanya, belum sempat kujawab pertanyaannya dia menyelak dengan menyanyakan
apakah gado-gadonya masih ada, seolah pertanyaan apa kabar itu hanyalah sebuah
basa-basi. Dengan senyuman palsuku kujawab “sudah habis, karna hari ini memang
lagi ramai yang beli gado-gado tadi”. “yaah padahal jessica lagi pengen
gado-gado. Yaudah deh makasih yaah.” Sontak aku kaget dari apa yang ia ucapkan
tadi, ternyata gado-gado yang ia ingin beli adalah untuk jessica, airmataku pun
menetes untuk kesekian kalinya, menangisi seorang pria yang bahkan dia pun
tidak tahu apa yang kurasakan selama ini. mungkinkah dia akan melihatku
menangisinya? “gue pesen 2 buat besok bisa?” tiba-tiba ia kembali ke warungku,
“elu nangis?” tanyanya kembali kepadaku yang mungkin untuk pertama kalinya dia
melihatku menangis. “kenapa nangis? Ada apa? Erika?” tanyanya kembali sambil
mengusap air mataku. Aku tak dapat berkata apa-apa, aku hanya menggelengkan
kepalaku sesekali untuk menjawab pertanyaannya. Aku malu dan sedih namun disaat
yanng sama aku merasa senang bisa di perhatikan lagi olehnya. Aku pun mengusap
air mataku dan mulai memberikan senyuman kepadanya yang seolah itu adalah
jawaban bahwa aku tidak apa-apa. “kenapa menangis? Gue salah yaa? Mungkin karna
gue udah gak bisa main lagi sama lu?” “nggak kok gue Cuma keingetan ayah gue”
dengan wajah kasian dia memelukku sambil mengelus kepalaku. “maafin gue yaa,
mungkin karna kita jarang main sama-sama lagi lu jadi keingetan ayah lu, maafin
banget karna gue ninggalin elu begitu aja.” “nggak kok, nggak apa-apa lagi. Gue
seneng ngelihat elu berdua sama jessica, akhirnya elu pacaran juga sama dia.
Selamat yaah” balasku sambil melepaskan pelukannya. “iih gak usah ikut-ikutan
sedih deh, ayo senyum lagi besok gue buatin gado-gado spesial buat jessica yaah”
sejak saat itu dia lebih memperhatikanku lagi walaupun Cuma mengajak ngobrol
sebentar lalu pergi lagi dengan jessica tapi aku senang akhirnya dia bisa
meluangkan waktunya untuk belajar bersamaku.
bersambung.....